Malam sebelum keberangkatanku,
/1/
Aku menunduk murung,
“Tak usah murung! Jika rindu, sebutlah namaku tiga kali,...” dan kau lantas tersenyum lebar.
Aku merengut, “Kenapa harus tiga kali?”
“Karena Tuhan menyukai angka tiga,”
“Darimana kau tahu apa yang disukai Tuhan?”
“Semua gerakan dalam wudhu, mulai dari kumur-kumur hingga membasuh kaki dilakukan tiga kali. Bacaan shalat dalam ruku dan sujud pun tiga kali,” Kau tersenyum lagi, lebih lebar.
“Berhentilah tersenyum! Aku tak suka melihatnya,”
“Kenapa? Kau tak suka melihat senyumku?” lalu kau tampakkan wajah sedihmu.
“Berhentilah tersenyum, seolah kau senang dengan kepergianku!”
“Aku tersenyum karena aku percaya kau pasti kembali...”
Aku terdiam. Digenggamnya tanganku.
“Pasti! Aku pasti kembali.” janjiku dalam genggaman tangannya erat.
Aku menunduk murung,
“Tak usah murung! Jika rindu, sebutlah namaku tiga kali,...” dan kau lantas tersenyum lebar.
Aku merengut, “Kenapa harus tiga kali?”
“Karena Tuhan menyukai angka tiga,”
“Darimana kau tahu apa yang disukai Tuhan?”
“Semua gerakan dalam wudhu, mulai dari kumur-kumur hingga membasuh kaki dilakukan tiga kali. Bacaan shalat dalam ruku dan sujud pun tiga kali,” Kau tersenyum lagi, lebih lebar.
“Berhentilah tersenyum! Aku tak suka melihatnya,”
“Kenapa? Kau tak suka melihat senyumku?” lalu kau tampakkan wajah sedihmu.
“Berhentilah tersenyum, seolah kau senang dengan kepergianku!”
“Aku tersenyum karena aku percaya kau pasti kembali...”
Aku terdiam. Digenggamnya tanganku.
“Pasti! Aku pasti kembali.” janjiku dalam genggaman tangannya erat.
/2/
Jangan pernah tinggalin shalat,
Inget sama Allah,
Inget sama keluarga di sini,
Jangan telat makan,
Diminum vitaminnya,
Jangan suka begadang,
Kerja yang bener,
Jangan suka telat,
Jangan kebanyakan main,
Jangan pernah tinggalin shalat,
Inget sama Allah,
Inget sama keluarga di sini,
Jangan telat makan,
Diminum vitaminnya,
Jangan suka begadang,
Kerja yang bener,
Jangan suka telat,
Jangan kebanyakan main,
Harus bisa bawa diri,
Yang baik sama orang,
Kalau ada apa-apa, langsung telpon mama,
Kalau sakit maagnya kambuh, obatnya yang warna hijau,
Ini obat buat masuk angin, yang ini buat kepala pusing,
Jangan lupa . . . .
. . .
Yang baik sama orang,
Kalau ada apa-apa, langsung telpon mama,
Kalau sakit maagnya kambuh, obatnya yang warna hijau,
Ini obat buat masuk angin, yang ini buat kepala pusing,
Jangan lupa . . . .
. . .
kata-kata mama pun hilang teredam tangis dalam pelukanku,
dalam isak tertahan tangisku
Jaga diri di sana,
Mama sayang aa
. . .
Mama sayang aa
. . .
/3/
Langit membelah udara,
Mengantarkanku terbang menjauh dari apa yang kusebut rumah
Membawa bekal mimpi, doa, dan harapan
Meninggalkan jejak kenangan
/4/
Berbaring diam,
membiarkan suara alarm hp berdering dengan geram,
membangunkanku di penghujung malam
namun mataku tetap terpejam,
sementara bibir terus bergumam . . .
"Rumah... Rumah... Rumah..."
(panggilku tiga kali, sesaat menjelang waktu sahur. Sendiri..)
(panggilku tiga kali, sesaat menjelang waktu sahur. Sendiri..)
A-rindu_rumah






