Kamis, 27 Agustus 2009

Rumah Rindu





Malam sebelum keberangkatanku,

/1/
Aku menunduk murung,
“Tak usah murung! Jika rindu, sebutlah namaku tiga kali,...” dan kau lantas tersenyum lebar.
Aku merengut, “Kenapa harus tiga kali?”
“Karena Tuhan menyukai angka tiga,”
“Darimana kau tahu apa yang disukai Tuhan?”
“Semua gerakan dalam wudhu, mulai dari kumur-kumur hingga membasuh kaki dilakukan tiga kali. Bacaan shalat dalam ruku dan sujud pun tiga kali,” Kau tersenyum lagi, lebih lebar.
“Berhentilah tersenyum! Aku tak suka melihatnya,”
“Kenapa? Kau tak suka melihat senyumku?” lalu kau tampakkan wajah sedihmu.
“Berhentilah tersenyum, seolah kau senang dengan kepergianku!”
“Aku tersenyum karena aku percaya kau pasti kembali...”
Aku terdiam. Digenggamnya tanganku.
“Pasti! Aku pasti kembali.” janjiku dalam genggaman tangannya erat.

/2/
Jangan pernah tinggalin shalat,
Inget sama Allah,
Inget sama keluarga di sini,
Jangan telat makan,
Diminum vitaminnya,
Jangan suka begadang,
Kerja yang bener,
Jangan suka telat,
Jangan kebanyakan main,
Harus bisa bawa diri,
Yang baik sama orang,
Kalau ada apa-apa, langsung telpon mama,
Kalau sakit maagnya kambuh, obatnya yang warna hijau,
Ini obat buat masuk angin, yang ini buat kepala pusing,
Jangan lupa . . . .
. . .

kata-kata mama pun hilang teredam tangis dalam pelukanku,
dalam isak tertahan tangisku

Jaga diri di sana,
Mama sayang aa
. . .


/3/
Langit membelah udara,
Mengantarkanku terbang menjauh dari apa yang kusebut rumah
Membawa bekal mimpi, doa, dan harapan
Meninggalkan jejak kenangan





/4/
Berbaring diam,
membiarkan suara alarm hp berdering dengan geram,
membangunkanku di penghujung malam
namun mataku tetap terpejam,
sementara bibir terus bergumam . . .
"Rumah... Rumah... Rumah..."
(panggilku tiga kali, sesaat menjelang waktu sahur. Sendiri..)



A-rindu_rumah

Rabu, 26 Agustus 2009

Basa basi babi

Dua hari yang lalu saya melihat babi di dekat rumah yang saya tinggali di Papua.
Panggil saya norak atau apa, tapi jujur saya memang belum pernah melihat babi sebelumnya secara live, seperti yang saya saksikan dua hari yang lalu itu.



Biasanya saya hanya melihatnya di tv, atau lebih seringnya dalam bentuk boneka yang dijual di mal-mal, yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa seolah ingin mensugesti orang-orang bahwa babi adalah hewan yang lucu dan menggemaskan dan enak untuk dipeluk.



Hmm...
NO! Percayalah babi itu sama sekali tidak lucu dan menggemaskan, apalagi untuk dipeluk-peluk!



Babi yang saya lihat itu cukup besar, warnanya abu-abu dengan hidung dan kaki berwarna merah muda.



Banyak yang tidak saya ketahui tentang babi, selain bahwa babi itu haram dalam islam,
yaitu ternyata babi mudah takut, dan larinya cukup kencang.
Bahkan, teman saya sempat dikejar-kejar babi yang tingginya sepinggang orang dewasa.
Mengerikan..



Yang saya tidak mengerti, di Papua, babi dianggap hewan yang sakral.
Jika ada seseorang yang menabrak babi, maka hukumannya bisa sangat fatal,
lebih dari jika kita menabrak manusia.



Dan untuk yang satu itu, saya mengalaminya sendiri.
Oh, bukan! Saya tidak menabrak babi, jika itu yang kalian pikirkan.
Saking bersemangatnya melihat babi, saya mencoba mengambil fotonya.
Si babi itu ketakutan, dan dia berlari menjauh.
Saya agak kesulitan mengambil fotonya, karena ternyata babi tersebut berlari cukup kencang.
Tapi saya tidak menyerah. Saya berjalan cepat mengikuti si babi sambil tetap mencoba mengambil fotonya.



Pada saat itulah, seorang penduduk asli Papua sana melihat kejadian tersebut dari jarak agak jauh.
Sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah saya, orang Papua tersebut mengeluarkan kata-kata yang terdengar seperti umpatan (atau kutukan..?!) dalam bahasa Papua kepada saya.
Saya jadi ketakutan dan memutar arah, lalu berlari secepat mungkin menjauhi babi tadi.
Mengerikan..!!

tapi untungnya, saya berhasil mendapatkan fotonya.. :p








A-berlari_lebih_cepat_dari_babi . . .

Membunuh Waktu


Jam 10.40 Waktu Indonesia Timur


tik... tik...


Ijinkan saya bertanya,
satu hari masih 24 jam kan?
satu jam masih 60 menit kan?
satu menit masih 60 detik kan?



Bagi sebagian besar orang,
termasuk saya sendiri (dulu), waktu sangatlah berharga.


Bahkan saking berharganya waktu, sering dijadikan slogan oleh para sopir angkot,
"Anda butuh waktu, kami perlu uang"


Time is money,
waktu adalah uang,
jadi memang waktu sangatlah berharga

Lalu kenapa bagi saya (sekarang) di sini, waktu terasa berjalan begitu lambat?
Saya bahkan nyaris gila mendengar bunyi tik-tik jarum detik yang bergerak perlahan.

tik.. tik.. tik..

Lantas membuat saya sedikit berpikir, betapa orang-orang begitu bergantung pada waktu.
Tentang masa lalu yang ingin diputar kembali,
Tentang masa kini yang berjalan lambat dan menyiksa,
Juga tentang masa depan yang ditakuti karena kemisteriusannya.

Aaaarrrgghhh...!!!
Saya perlu sesuatu untuk membunuh waktu.
Agar manusia tak perlu lagi bergantung pada waktu.
Bisa bebas bermain sepuasnya tanpa takut kemalaman,
Bisa tidur sepuasnya tanpa takut kesiangan,
Bisa bebas melakukan apapun tanpa batasan waktu...


Bukankah itu menyenangkan?

Maka saya tak perlu lagi berada di kantor ini, duduk seharian di kursi yang membuat pantat saya semakin lebar.
Tak perlu lagi berpura-pura serius mengerjakan sesuatu di depan komputer, padahal hanya mengetik kalimat yang diulang-ulang 'saya ingin pulang saya ingin pulang saya ingin pulang saya ingin pulang'

Dan tentunya, dengan tiadanya waktu, jarak menjadi tak berarti bukan?
Maka saya bisa pulang ke rumah tercinta saya, di pinggiran kota Bandung, kapanpun saya mau.

Tapi bagaimana caranya membunuh waktu?

Tik...tik... tik... tik... tik... tik...

Jam 10.52 Waktu Indonesia Timur


tik...


A-bukan_seorang_pembunuh_yang_baik

Selasa, 25 Agustus 2009

A new baby has born...


Saya seorang single parent yang memutuskan untuk melahirkan secara prematur, maka inilah hasilnya, sebuah blog yang akan menceritakan kisah saya secara apa adanya.


Kenapa saya katakan bayi (baca: blog) ini saya lahirkan secara prematur?

Karena sesungguhnya blog ini lahir dari keterpaksaan. Tadinya saya merasa masih belum siap untuk memiliki seorang bayi, tapi keadaan sekarang yang memaksa saya untuk akhirnya memutuskan, "Lets have a baby..!!"


Keadaan yang saya maksudkan di sini adalah...

Hmm... (Jika Anda tidak siap mendengar serentetan keluhan panjang, lewati saja bagian ini)
1. Saya berada ribuan kilometer dari rumah, sendirian, terasing di sebuah pulau bernama Papua.

2. Saya bekerja di sebuah kantor yang paling membosankan yang pernah ada. Setiap harinya saya harus menjalani rutinitas bangun pagi, berangkat naik angkot yang penduduk sini menyebutnya 'taksi', melewati bukit-bukit, danau, dan jalan yang berkelok-kelok. Dan begitu saya tiba di kantor, saya hanya perlu duduk manis di depan komputer, memelototi layar komputer tanpa tahu apa yang bisa dikerjakan karena memang tidak ada pekerjaan yang diberikan. Duduk terus hingga mata merah bosan memelototi komputer, pantat pegal karena duduk berjam-jam, bibir kaku karena lupa bagaimana caranya tersenyum. Begitu terus dari jam 07.30 s.d 17.00 WIT. Dan begitu terus pula setiap harinya. Datar dan monoton.

3. Puasa kali ini benar-benar menjadi puasa penuh di mana saya jauh dari keluarga. Sahur harus bangun sejam lebih awal (jam 2 pagi) untuk memasak (masak sendiri), karena di sini tidak ada warung yang buka satu pun di saat sahur, jadi mau gak mau saya harus masak sendiri.

4. Ini akan jadi lebaran pertama saya jauh dari keluarga. Gila, tiket PP Papua-Jakarta 9 juta (selama musim lebaran)! Bagaimana mungkin saya bisa pulang dengan harga tiket yang mahalnya cuma bisa dikalahkan oleh biaya operasi plastiknya Krisdayanti.

5. Saya ingin pulaaaannnnggggg....!!!!
. . . . .


Maka berbekal benih-benih embrio itulah, pada hari ini, hari rabu, 26 Agustus 2009 pukul12.12 Waktu Indonesi Timur, telah lahir seorang bayi yang hitam, kurus, ikal, pesek, seperti bapaknya (saya). Mungkin jika sekarang saya berada di Inggris, atau New York, atau Jepang, bayi ini akan lahir sempurna, berkulit putih, mulus, mancung, tampan, juga seperti bapaknya (saya), hehe..

Bayi ini saya namakan seperti bapaknya, A-permana, the Original. Sudah terlalu banyak produk bajakan di luar sana, semoga kehadiran bayi saya ini bisa menjadi seperti pasir kuarsa di tengah-tengah gurun sahara. Meski sama-sama pasir, tapi terlihat bedanya.

Bayi ini baru lahir, jadi biarkanlah dia mengikuti proses alaminya, dari mulai belajar merangkak, berdiri, bicara, berjalan, dan berlari.
Seperti yang saya katakan di awal, saya adalah seorang single parent, dan ini bayi pertama saya, jadi saya butuh sekali banyak masukan dari kalian yang sudah ataupun sama-sama baru mencoba menjadi orang tua untuk bayi-bayinya.

Ayo ayo, jangan malu-malu, silakan kenalkan bayi saya,

Yang memiliki bayi, kenalkan juga bayinya pada saya.

Siapa tahu bayi-bayi kita bisa menjadi sahabat dekat... :D